Sektor pertanian mempunyai peranan yang sangat penting dalam perekonomian nasional, terutama perekonomian rakyat. Pengalaman menunjukkan bahwa pengembangan agribisnis komoditas unggulan perikanan mempunyai peluang yang cukup besar dalam hal peningkatan permintaan, baik dalam negeri maupun ekspor (Badan Agribisnis Departemen Pertanian, 1998 ; 5).
Sejalan dengan pentingnya sektor pertanian maka pada saat ini pembangunan pertanian diharapkan sudah mampu mewujudkan sektor ini menjadi sektor maju, efisien dan tangguh. Dalam mewujudkan tujuan tersebut maka diharapkan dapat meningkatkan produksi dan mutu produksi, meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani, memperluas lapangan kerja dan kesempatan berusaha, menunjang pembangunan industri dan meningkatkan ekspor serta menyediakan protein nabati dan hewani. Untuk mencapai sasaran tersebut dilakukan melalui usaha ekstensifikasi, difersifikasi dan rehabilitasi secara terpadu dan merata dalam subsektor-subsektor yang ada dalam sektor pertanian yaitu subsektor tanaman pangan, peternakan, perikanan, perkebunan dan kehutanan (Departemen Pertanian, 1989 ; 15).
Pembangunan pertanian yang mencakup pertanian tanaman pangan, perikanan, dan peternakan diarahkan kepada perkembangan pertanian yang maju, efisien dan tangguh. Pembangunan pertanian bertujuan untuk meningkatkan hasil dan mutu produksi pendapatan dan taraf hidup petani peternak dan memperluas lapangan kerja serta kesempatan berusaha. Dari semua sektor pertanian tersebut, sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang perlu dikembangkan (tanpa melupakan bagian yang lain), mengingat daerah parairan kita yang cukup luas, dan masih banyak potensi yang belum dimanfaatkan seara efisien dan efektif. Di samping itu juga dilihat dari tujuan produksi yang sekaligus untuk meningkatkan gizi makanan rakyat, melalui penyediaan protein, lemak dan vitamin yang cukup, maka sektor perikanan sangat perlu dikembangkan .
Program peningkatan produksi terutama sekali akan ditekankan pada usaha perikanan rakyat yang pada saat ini merupakan salah satu prioritas utama dari produksi nasional. Peningkatan produksi perikanan dilakukan baik melalui usaha pemeliharaan di air tawar dan laut. Untuk tercapainya usaha tersebut, maka kegiatan pembangunan, rehabilitasi prasarana produksi, pemasaran serta pembinaan dibidang teknik, ekonomi dan manajemen usaha perikanan rakyat harus ditingkatkan.
Mengingat areal pertanian yang semakin sempit yang disebabkan oleh jumlah penduduk yang semakin meningkat dan adanya dukungan sarana perairan dan irigasi, maka sangat perlu untuk lebih memasyarakatkan pola usaha tani terpadu dan penganekaragaman usaha tani sehingga pendapatan petani dapat mendukung kesejahtraan mereka secara layak.
Sehubungan dengan masalah tersebut di atas Dinas Perikanan Propinsi NTB memperkenalkan dan menerapkan suatu metode atau sistem dalam usaha pemeliharaan ikan air tawar yang dapat diandalkan dan dikembangkan karena kehandalannya kepada masyarakat terutama kepada petani yang memiliki lahan sempit sebagai diversifikasi usahanya dalam bidang pertanian yaitu sistem budidaya ikan air tawar dan sebagainya (Dinas Perikanan Propinsi NTB, 1995 ; 1).
Adapun beberapa pertimbangan yang melatarbelakangi pembanguanan tekhnologi ikan sistem keramba antara lain adalah (Dinas Perikanan Propinsi NTB, 1995 ; 1) :
1. Budidaya ikan sistem keramba tidak memerlukan biaya investasi yang terlalu besar.
2. Wadah budidaya merupakan rangkaian bilahan bambu dan balok kayu yang mudah diperoleh dengan harga yang relatif murah.
3. Unit budidaya ikan sistem keramba mudah dipindah-pindahkan kelokasi lain yang lebih menguntungkan.
4. Pengolahan usaha lebih mudah dilakukan dan tidak membutuhkan tenaga kerja yang lebih banyak.
5. Dapat dengan mudah mengendalikan hama dan penyakit baik berupa predator atau pesaing/ kompetetor.
6. Kebutuhan ikan air tawar semakin banyak dan meningkat dengan adanya kesadaran masyarakat meningkatkan gizi keluarga.
7. Harga ikan air tawar masih bisa dijangkau oleh masyarakat sehingga kemungkinan pemasaran hasil tidak mengalami kesulitan.
Tujuan yang diharapkan dapat di capai dari pengembangan budidaya ikan air tawar sistem keramba ini adalah (Dinas Perikanan Propinsi NTB, 1995 ; 2) :
1. Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani dan keluarganya dari nilai jual ikan hasil keramba.
2. Meningkatkan produksi ikan air tawar.
3. Memenuhi kebutuhan protein hewani bagi masyarakat.
4. Memenuhi kebutuhan ikan konsumsi bagi unit usaha kolam pemancingan, kebutuhan permintaan pasar dan sebagainya.
Pertimbangan-pertimbangan tersebut diatas mengundang minat para petani untuk mengusahakan budidaya ikan air tawar sistem keramba. Salah satunya adalah di Kecamatan Narmada. Usaha budidaya sistem keramba ini mulai dirintis sejak tahun 1990 dan perkembangannya baru dirasakan pada dua tahun terkhir setelah para petani mendapat bantuan tekhnis maupun non tekhnis dari Dinas Perikanan dalam usaha budidaya ikan air tawar dengan sistem keramba.
Dengan adanya pengembangan itu mengakibatkan meningkatnya jumlah produksi ikan air tawar dengan sistem keramba. Kegiatan pemeliharaan ikan dengan sistem keramba ini dapat ditemukan di kecamatan Labuapi, Kediri, Narmada dan Lingsar yang memiliki perairan umum dengan pengairan yang cukup stabil.
Pada tahun 1999 jumlah keramba yang beroperasi sebanyak 215 unit, sedangkan pada tahun 2001 meningkat menjadi 293 unit atau naik 78 unit (36,28 %), kenaikan jumlah keramba tersebut juga diikuti oleh meningkatnya hasil produksi dari 10,9 ton menjadi 87,9 ton atau meningkat 706.4 %.
Keadaan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 1 :Produksi dan jumlah keramba dirinci per Kecamatan di Kabupaten Lombok Barat tahun 2001.
| No. | Kecamatan | Lahan ( unit ) | Produksi |
| 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. | Sekotong Lembar Gerung Labuapi Kediri Narmada Lingsar | - - - 31 7 30 225 | - - - 9,3 2,1 9,0 67,5 |
| Jumlah | 293 | 87,9 | |
Sumber: Dinas perikanan dan kelautan Kabupaten Lombok Barat 2001.
Tabel diatas menunjukan bahwa dari tujuh Kecamatan di Kabupaten Lombok Barat, hanya empat kecamatan yang mengusahakan budidaya ikan sistem keramba yaitu kecamatan Labuapi, Kediri, Narmada, dan Lingsar. Jumlah produksi ikan yang dihasilkan oleh empat kecamatan tersebut tahun 2001 sebesar 87,9 ton. Dari keempat kecamatan yang melakukan usaha budidaya ikan air tawar sistem keramba tersebut, kecamatan Lingsar merupakan kecamatan yang memproduksi ikan air tawar sistem keramba terbesar, dengan produksi sebesar 67,5 ton dengan jumlah keramba sebanyak 225 unit, kemudian kecamatan Labu api dengan produksi sebesar 9,3 ton dan jumlah keramba sebanyak 31 unit, lalu kecamatan Narmada dengan jumlah produksi sebesar 9,0 ton dengan jumlah keramba sebanyak 30 unit. Dan yang paling sedikit adalah kecamatan Kediri sebesar 2,1 ton dengan jumlah keramba sebanyak 7 unit (Dinas Perikanan dan Kelautan, 2001 ; 28).
Apabila dilihat dari luas pemilikan lahan (sawah), di Desa Peresak banyak petani yang memiliki lahan sempit (£ 0,5 Ha). Keadaan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2 : Luas pemilikan lahan pertanian didesa Peresak Kecamatan Narmada Kabupaten Lombok Barat tahun 2001.
| No. | Luas Pemilikan ( Ha ) | Jumlah KK |
| 1. | < 0,1 | 155 |
| 2. | 0,1 – 0,5 | 337 |
| 3. | 0.6 – 1,0 | 99 |
| 4. | 1,1 – 1,5 | 16 |
| 5. | 1,6 – 2,0 | 6 |
| 7. | ³ 3 | _ |
| Jumlah | 613 | |
Sumber : Kantor Desa Peresak Kecamatan Narmada tahun 2001.
Tabel diatas menunjukkan bahwa dari 613 KK yang bekerja disektor pertanian, terdapat 492 KK yang memiliki lahan sempit (£ 0,5 Ha). Sebagian dari mereka berupaya untuk melakukan diversifikasi usaha guna meningkatkan pendapatan mereka yaitu dengan melaksanakan budidaya ikan air tawar sistim keramba.