| Suscríbete vía RSS

Minggu, 22 Maret 2009

ekonomi moneter

| |

Pada tahun 1997 Cukup banyak data makroekonomi yang terbesar diberbagai media yang secara langsung maupun tidak langsung dapat dimanfaatkan perusahaan. Data makroekonomi tersebut banyak yang dapat dijadikan sebagai indikator ekonomi yang dapat diolah menjadi informasi penting dalam rangka studi kelayakan bisnis. Misalnya PBD (Produk Domestik Bruto), investasi, inflasi, kurs valuta asing, kredit perbankan, anggaran pemerintah, pengeluaran pembangunan, perdagangan luar negeri dan neraca pembayaran.
Selain menjadi makroekonomi sebagai input dalam studi kelayakan bisnis, hendaknya perlu dikaji timbalbaliknya. Yaitu bahwa bisnis yang direncanakan hendaknya bermanfaat bagi pihak lain. PT.Coca-Cola adalah salah satu perusahaan yang memanfaatkan hal tersebut dalam mendukung rencana bisnis dan pengembangan usahanya dimsa yang akan datang.
Pelaksanaan pembangunan ekonomi terus dilaksanakan dalam rangka menaikkan atau paling tidak mempertahankan pendapatan yang telah dicapai. Bagi perusahaan ini masih banyak tantangan dan hambatan yang dihadapi, sehingga tidaklah mudah untuk melaksanakan pembangunan ekonomi yang juga akan berdampak pada aspek sosial politik.
Sebuah perusahaan memiliki tugas melaksanakan bermacam-macam kegiatan dalam waktu yang bersamaan. Misalnya perusahaan manufactur, selain membeli bahan baku, mengolahnya menjadi barang jadi, kemudian mendistribusikannya kepasar, juga melaksanakan kegiatan-kegiatan seperti penelitian, penyediaan lapangan pekerjaan baru, dan sebagainya
Hasil analisis terhadap elemen-elemen di atas nanti akan berupa suatu pernyataan yang mendukung apakah rencana bisnis dianggap layak atau tidak layak. Jika, dari aspek lingkungan luar ini merekomendasikan agar rencana bisnis diteruskan, maka studi akan dilanjutkan ke aspek yang lain. Jika, sebaliknya rencana bisnis dinyatakan tidak layak dapat dilakukan kajian ulang yang lebih realistis dan positif sehingga kajian layak. Apabila memang sulit untuk menjadi layak, sebaiknya rencana bisnis ini diakhir saja.
Pada saat perusahaan akan melakukan ekspansi usaha tiba-tiba ditahun 1997-1998 kawasan Asia dan Afrika dilanda krisis ekonomi yang berakibat pada lesunya kondisi perusahaan besar yang banyak beropasi dikawasan tersebut yang sahamnya banyak dimiliki asing. PT. Coca-Cola juga tidak terlepas dari imbas yang terjadi sehingga memaksa peusahaan melakukan rasionalisasi usaha untuk menghadapi masalah yang timbul, untungnya perusahaan yang berkantor pusat di Amerika Serikat ini tidak terlalu terkena dampaknya disebabkan oleh luasnya pasar yang dikuasai serta kemampuan perusahaan untuk melakukan diserfikasi produk, tetapi walaupun begitu perusahaan yang banyak beroprasi dinegara berkembang ini banyak tetap saja menghadapi masalah ini disebabkan oleh menurunya daya beli masyarakat. Saat ini masalah yang dihadapi perusahaan adalah bagaimana meningkatkan penjualan ditengah menurunya daya beli dan bagaimana perusahaan menghadapi ancaman pemutusan kerja ( PHK ) terhadap karyawan karena perusahaan dituntut untuk melakukan efisiensi agar dapat bersaing denan perusahaan lainya dan melebarkan pasar.

0 komentar:

Pengikut